Senin, 21 Mei 2012

laporan herbisida


BAB 1
PENDAHULUAN



A.    LATAR BELAKANG

Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat atau pun perkebunan besar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma terhadap tanaman budidayabervariasi, tergantung dari jenis tanamannya, iklim, jenis gulmanya, dan tentu sajapraktek pertanian di samping faktor lain. Di negara yang sedang berkembang, kerugian karena gulma tidak saja tinggi, tetapi juga mempengaruhi persediaan pangan dunia. Tanaman perkebunan juga mudah terpengaruh oleh gulma, terutama sewaktu masih muda. Apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, makakemungkinan besar usaha tanaman perkebunan itu akan rugi total.
Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal pertumbuhan tanaman perkebunan akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen.  Beberapa gulma lebih mampu berkompetisi daripada yang lain (misalnya Imperata cyndrica), yang dengan demikian menyebabkan kerugian yang lebih besar. Persaingan antara gulma dengan tanaman yang kita usahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu diperlukan pengendalian gulma secara efektif dan efisien.
Pengendalian dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih mudah. Di negara-negara yang sedang membangun kegiatan pengendalian yang banyak dilakukan orang adalah pemberantasan. Pengendalian gulma dapat dilakukandengan cara-cara Preventif (pencegahan), Pengendalian gulma secara fisik, Pengendalian gulma dengan sistem budidaya, Pengendalian gulma secara biologis, Pengendalian gulma secara kimiawi, dan Pengendalian gulma secara terpadu.











Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif.  Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. Salah satunya pengendalian secara kimiawi dengan pestisida atau herbisida menggunakan alat penyemprot punggung (knapsack sprayer).



B.     TUJUAN

a.       Memberikan pengetahuan bagi mahasiswa dalam penerapan dosis aplikasi pestisida di lahan.
b.      Menentukan lebar efektif, debit (output) nozzle dan kecepatan jalan.
c.       Memberikan gambaran dalam pemberian aplikasi pestisida yang baik agar dapat meminimalisasi kerugian akibat pemborosan pemakaian pestisida dan kesalahan dosis sehingga aplikasi tidak menimbulkanhasil.
d.      Praktikum ini bertujuan antara lain agar mahasiswa mampu mengkalibrasidan mengukur dosis pestisida secara tepat dan benar dengan knapsack sprayer. Selain itu, melatih kemampuan berjalan sesuai dengan waktu yang telahdiperkirakan.
e.       Menghitung kebutuhan larutan herbisida yang diperlukan untuk satuan luas tertentu.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai sasaran yang dimaksud, selain factor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan anjuran dosis.
Adapun cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh petani, salah satunya adalah dengan penyemprotan (Spraying). Cara ini merupakan metode yang paling banyak digunakan (Wudianto,1999).

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu pestisida antara lain:

1.        Dosis Pestisida.

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan sasaran tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu aplikasi atau lebih (Djojosumarto, 2008).

2.    Konsentrasi Pestisida

Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu liter air (atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan sasaran tertentu.
(Djojosumarto ,2008).



3.    Volume Semprot

Volume semprot adalah banyaknya larutan jadi pestisida yang digunakan untuk menyemprot sasaran tertentu per satuan luas atau per satuan individu tanaman (Djojosumarto ,2008).

4.    Bahan Penyampur

Pestisida sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya dinyatakan dalam berat/volume. Bahan penyampur yang dapat digunakan adalah alkohol, minyak tanah, xyline dan air (Sastroutomo, 1992).

Salah satu  alat semprot yang digunakan, antara lain Knapsack Sprayer. Alat ini merupakan alat semprot yang sangat meluas digunakan. Alat ini hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air. Kapasitas tangki antara 15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa tangan dan daya jangkaunya sangat terbatas yaitu 2 meter.
Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah ( Panut, 2000).












BAB III
METODOLOGY


A.    ALAT DAN BAHAN

Alat : knapsack sparayer, meteran, gelas ukur, stop watch, ember, gayung, tali rafia, patok-patok kayu

Bahan : air bersih

B.     PROSEDUR KERJA

Adapun metode kerja yang dilakukan dalam praktikum ini, antara lain :

1.            Metode  luas

-   Dipersiapkan alat semprot dan nosel yang akan digunakan
-   Di masukkan air ke dalam tangki sprayer sebanyak 3 liter dan dipompa
    sebanyak 20 kali
-   Disemprotkan merata pada petak contoh
-   Diukur sisa air dalam tangki setelah dilakukan penyemprotan
-   Dihitung volume semprot tiap hektar lahan
-   Dilakukan pekerjaan yang serupa dengan 2 nosel yang berbeda







2.      Metode waktu

-   Dimisalkan volume semprotnya adalah 500 liter/hektar
-   Di masukkan air ke dalam tangki sprayer secukupnya
-   Ditentukan debit nosel dengan cara air disemprotkan selama waktu
    tertentu
-   Air yang keluar dalam nosel ditampung di dalam ember dan diukur
-    Dihitung kecepatan jalan operator
-    Dilakukan pekerjaan serupa dengan 2 nosel yang berbeda

C.     PARAMETER PENGAMATAN

Data yang diperoleh dari kalibrasi sprayer adalah data dari hasil pengukuran penyemprotan menggunakan nossle (merah, kuning, biru) pada dinding, kemudian di ukur panjang jangkauan dari nossle tersebut dan membandingkan hasil jangkauan dari warna – warna nossle tersebut.















BAB IV
HASIL, PENGHITUNGAN, DAN PEMBAHASAN



A.    HASIL

1.      LEBAR EFEKTIF

NO ULANGAN
WARNA NOSSLE
LEBAR EFEKTIF (meter)
1
KUNING
1,15
2
1,51
3
1,55
1
BIRU
2,04
2
2,10
3
1,69
JUMLAH

10,04
RERATA

1,67

2.      DEBIT

NO
WAKTU (menit)
JUMLAH LARUTAN (liter)
1
2
2

JUMLAH
2

RERATA
2






3.      KECEPATAN JALAN NOSSLE KUNING

NO
ULANGAN
JARAK (Meter)
PANJANG PENYEMPROTAN (Meter)
WAKTU
(Detik)
KECEPATAN (Km/Jam)
1
1
25
25
300
0,23
2
2
25
25
300
0,23
3
3
25
25
300
0,23
4
4
25
25
300
0,23
5
5
25
25
300
0,23
6
6
25
6,81
 60
0,32

JUMLAH

131,81
1560
1,47

RERATA

21,96
260
0,245

KECEPATAN JALAN NOSSLE BIRU

NO
ULANGAN
JARAK (Meter)
PANJANG PENYEMPROTAN (Meter)
WAKTU
(Detik)
KECEPATAN (Km/Jam)
1
1
25
25
300
0,23
2
2
25
25
300
0,23
3
3
25
25
300
0,23
4
4
25
25
300
0,23
5
5
25
25
300
0,23
6
6
25
25
 300
0,23
7
7
25
8,65
90
0,27

JUMLAH

158,65
1890
1,65

RERATA

22,66
270
0,235





B.     PENGHITUNGAN

*Debit nossle =           jumlah larutan (lt)                   =          2                =  1  lt/menit
                                    Jumlah waktu (menit)                         2
RUMUS :
*kecepatan jalan =      ..........  m         x          1000                =                      km/jam
                                    ...........det                    360                             

*Nossle Kuning

*kecepatan jalan =      25        m         x          1000                =          0,23     km/jam
                                    300      det                   360                              
*kecepatan jalan =      6,81     m         x          1000                =          0,32     km/jam
                                    60        det                   360                             

*Nossle Biru

*kecepatan jalan =      25        m         x          1000                =          0,23     km/jam
                                    300      det                   360                             
*kecepatan jalan =      8,65     m         x          1000                =          0,27     km/jam
                                    90        det                   360                             

           
C.     PEMBAHASAN

Pada praktikum ini menggunakan 2 metode dalam melakukan kalibrasi, yaitu metode luas dan metode waktu. Dimana pengertian kalibrasi itu sendiri adalah penyesuaian mekanisme kerja alat sesuai dengan standar baku. Standar bakunya adalah penyebaran herbisida secara rata di tempat/ lokasi lahan yang disemprot.
Kalibrasi dilakukan sebelum melakukan penyemprotan, dan harus memenuhi syarat, yaitu kecepatan jalan dan tekanan tangki harus konstan/ tetap, serta operator, alat, dan lahannya harus sama.
Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah supaya dalam penyemprotan dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat ke arah sasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif
Dalam kalibrasi, kecepatan jalan operator sangat mempengaruhi karena dalam pelaksanaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh bentuk topografi areal, penghalang seperti parit dan batang melintang. Selain itu posisi nossle juga sangat mempengaruhi dalam aplikasi herbisida. Ketinggian nossle dari permukaan gulma sasaran yaitu  50 cm.

Pada praktikum ini menggunakan 2 nossle dengan warna yang berbeda, dengan masing-masing nossle dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk metode luas dan 6 kali metode waktu.
Dari hasil penghitungan diatas, dapat diketahui bahwa Nossle biru memiliki jangkauan yang lebih luas dari Nossle kuning, hal ini diakibatkan dari beberapa faktor yaitu : pemompaan knapsack yang berbeda menyebabkan lebar penyemprotan berbeda, penyemprot yang berbeda orangnya yaitu antara penyemprot lebar efektif dan penyemprot kecepatan jalan nossle menyebabkan tekanan berbeda.












BAB V
PENUTUP



A.    KESIMPULAN
1.      Kalibrasi adalah penyesuaian mekanisme kerja alat sesuai dengan standar baku.
2.      Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah supaya dalam penyemprotan dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat  ke arah sasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif.
3.      Pada metode luas, diterapkan pada lahan yang berskala sempit dengan tujuan untuk menentukan volume semprot.
4.      Pada metode waktu, dilakukan apabila volume semprotnya sudah ditentukan dengan tujuan untuk menentukan kecepatan jalan operator

B.     SARAN
Sebaiknya untuk praktikum berikutnya dapat dilakukan lebih baik dari praktikum sekarang, dan agar mendapat hasil yang baik sebaiknya operator knapsack tidak di ganti-ganti, karena mempengaruhi hasil perhitungan.












DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2012. Petunjuk Praktikum Ilmu Pengendalian Gulma. Fakultas Pertanian. UNTAN.
Djojosumarto, Panut. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius: Yogyakarta

Sastroutomo Soetikno S. 1992.Pestisida Dasar-Dasar Dan  Dampak Penggunaanya. Gramedia:  Jakarta.

Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius: Yogyakarta

Wudianto, R. 1999. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta

Sukma,Y. dan Yakup, 1991. Gulma Dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Press, Jakarta.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar